CENDONO – Di tengah tingginya angka pengangguran usia muda, MA Miftahul Falah Cendono mengambil langkah strategis dengan menggelar workshop pembekalan siswa pada 2 Mei 2026. Menghadirkan santripreneur Agus Manshur, kegiatan ini menjadi “tamparan halus” bagi generasi Gen-Z yang masih bergantung pada ijazah tanpa keterampilan.
Dalam pemaparannya bertajuk “Manifesto Rezeki Santri Digital: Strategi Menjemput Berkah Gen-Z”, Agus Manshurudin membuka realitas yang tidak bisa dihindari: jutaan anak muda masih menganggur, sementara peluang ekonomi digital justru terbuka sangat lebar.
“Pertanyaannya sederhana: setelah lulus, mau jadi beban atau solusi?” ujarnya di hadapan peserta.
Ijazah Saja Tidak Cukup
Agus menegaskan bahwa ijazah hanyalah “tiket masuk”, bukan jaminan kesuksesan. Di era digital, nilai seseorang ditentukan oleh kombinasi skill dan sikap.
Ia mendorong siswa MA dan pesantren untuk tidak minder, justru harus percaya diri karena memiliki dua kekuatan utama: spiritualitas dan karakter.
“Santri itu punya fondasi yang tidak dimiliki semua orang. Tinggal ditambah skill, maka dia bisa jadi pemenang,” tegasnya.
3 Fondasi Rezeki Berkah untuk Gen-Z
Dalam sesi inti, Agus Manshur membongkar tiga fondasi utama yang menurutnya menjadi kunci rezeki berkah di era modern:
1. Fondasi Spiritual: Rezeki Bukan Sekadar Gaji
Ia mengingatkan bahwa rezeki tidak selalu datang dalam bentuk yang konvensional. Dengan ketakwaan, peluang bisa datang dari arah yang tak terduga—mulai dari tawaran kerja lewat media sosial hingga jejaring relasi yang membuka jalan sukses.
“Logika santri digital: rezeki bisa datang dari hal yang tidak kita sangka,” jelasnya.
2. Jalur Digital: Peluang Tanpa Batas
Agus menyoroti besarnya peluang di dunia digital yang sering diabaikan siswa. Ia menyebut tiga jalur utama yang bisa langsung ditekuni:
- Marketplace: dari produk desa ke pasar global
- Affiliate: tanpa modal barang, cukup kepercayaan dan konten
- Freelance: menjual skill ke pasar internasional
“Sekarang bukan zamannya nunggu kerja. Ciptakan peluang sendiri,” katanya.
3. Khidmah: Jalan Sunyi Pembuka Rezeki
Di tengah budaya instan, Agus justru menekankan pentingnya pengabdian. Menurutnya, keberkahan rezeki sangat erat dengan seberapa besar manfaat seseorang bagi orang lain.
“Banyak orang mengejar uang, tapi lupa bahwa pintu rezeki sering terbuka lewat khidmah,” ungkapnya.
Kritik Halus untuk Gen-Z
Workshop ini juga menjadi refleksi keras bagi generasi muda. Agus menyinggung kecenderungan Gen-Z yang terlalu nyaman sebagai konsumen, bukan produsen.
Padahal, menurutnya, dengan teknologi yang ada saat ini, siapa pun bisa memulai usaha, membangun personal branding, hingga menghasilkan uang secara mandiri.
Pesan Penutup yang Menyentak
Menutup sesi, Agus Manshur menyampaikan pesan yang mengundang renungan mendalam:
“Jangan takut tidak mendapatkan rezeki, takutlah jika tidak mendapatkan keberkahan. Karena rezeki sudah diatur, tapi keberkahan harus dijemput dengan takwa, ilmu, dan khidmah.”
Workshop ini mendapat respons antusias dari para siswa yang merasa tercerahkan dan tertantang untuk mulai mempersiapkan diri sejak sekarang.
Melalui kegiatan ini, MA Miftahul Falah Cendono menegaskan komitmennya mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan peluang—menjadi generasi santri digital yang mandiri, berdaya saing, dan membawa keberkahan.

Comments
Post a Comment